Thursday, January 26, 2012

Ben Witherington on "Five Things Not to Say to the Grieving"


Ben Witherington recently lost his daughter who unexpectedly died of pulmonary embolism at the age of 32. She was found dead in her home in Durham, North Carolina, on January 11. On his blog, he shared his thought on how to deal with such devastating experience with a "good grief." You can read it here. What I find particularly insightful is his thought on "things not to say to the grieving." I've copied what he wrote below. The original posting can be found here.

When a person suffers the devastating loss of a loved one, you should — however well-intentioned you might be — keep your mouth shut.  Or at the very least, you should think long and hard before you say anything.  Here are some of the things I recently heard that did not help, and frankly were not true.
  1. “The Lord gives and the Lord takes away.” Not a saying from God, rather it’s from the poorly-informed Job, who was later forced to revise his opinion.  As it happens, it was Satan who devastated Job’s life and family.
  2. “You’ll get over it soon.” Wrong.  I hope I never get over the loss of my daughter.  I don’t want to forget her love, her smile, her joys, her sorrows, and so many millions of other things that formed the sum total of her life.  I do not intend to get over it. I intend to get beyond it by the grace of God, but in no way forgetting what happened to her at the end of her life in this world.   There will always be a Christy-shaped hole in my heart.  Period.
  3. “Sorry about your lost loved one.” This is well meant, of course, but bad theology.  Christy is not lost.  I know right where to find her.  She is safe in the arms of Jesus.  One of our good Christian friends shared this experience with me from her charismatic prayer time, this week: “The Holy Spirit came upon the prayer so mightily.  My heart is not heavy, like it was before that prayer, and the witness the precious Holy Spirit gave us was that Christy truly has made it home.  I know she is home, but the prayer made it very real to us.”  Exactly right.  She has gone before us, but she is not a lost loved one wandering in oblivion.  She is a found loved one who has found her home in Christ.
  4. “Well, at least you still have your son.” I am indeed very thankful our son and our Russian daughter are alive and well, but I don’t believe in compensatory theology.  Having other children does not make the loss of Christy any less hard to bear.  Each life is different, unique, special, and one life does not compensate for the loss of another.  As John Donne says, “Any man’s death diminishes me, for I am a part of mankind.”  All the more so when it’s a member of my own family.
  5. “God will make up for this with a twofold blessing.” Again, I don’t think God is a practitioner of some sort of new math or compensatory calculus, running the universe.  God has not been a naughty boy taking away my sweet-pea named Christy, and he has nothing to make up for.   I certainly do believe God works everything together for good, for those who love him.
So I leave myself open to such working, trusting it will make me better, not bitter.

Tuesday, January 24, 2012

Seandainya Setiap Anak Muda Seperti Oma Hafini

Hari itu adalah jadwal saya untuk ikut serta di dalam pelayanan Perjamuan Kudus di rumah anggota jemaat yang sakit menahun. Kebanyakan dari mereka hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Itulah sebabnya para rohaniwan beserta Majelis Jemaat perlu mendatangi tempat tinggal mereka dan melaksanakan Perjamuan Kudus di sana. Ini adalah kali kedua saya terlibat di dalam pelayanan ini. Menariknya, saya selalu merasa bahwa sesungguhnya sayalah yang dilayani oleh oma-oma dan opa-opa yang semestinya saya layani. (Ya, inilah contoh keangkuhan seorang muda yang berpikir bahwa hanya yang sehatlah yang dapat melayani yang sakit. *malu*) Yang paling berkesan kali itu adalah ketika kami mengunjungi seorang oma berusia 94 tahun bernama Hafini. Meskipun usianya sudah sangat tua, otak oma masih tajam dan imannya teguh. Jarang sekali saya temukan yang seperti oma.

Kami menemuinya di dalam kamar tidurnya. Meski ia terbaring di atas tempat tidurnya, wajah oma Hafini begitu berbinar-binar. Ia menyambut kami dengan senyum manis. Kulit wajahnya yang sudah penuh dengan keriput sama sekali tidak dapat menutupi sukacitanya ketika melihat kami. "Cu, siapa namanya?", tanya oma Hafini. Saya harus menjawab dengan setengah teriak karena pendengarannya sudah melemah. Oma sangat menyadari keberadaannya yang sudah tua dan lemah. "Sekarang jadi kayak anak kecil lagi. Mandi dimandiin. Makan disuapin. Kalo makan sendiri, tangan ngegeter. Kuping udah budek," ujarnya. Lalu ia menceritakan kepada kami bahwa ia sudah mejadi anggota gereja kami sejak berusia 20 tahun! Ia bernostalgia bagaimana dulu ia mengunjungi anggota-anggota jemaat yang sakit, jalan kaki beberapa kilometer di bawah hujan. "Tapi sekarang udah nggak bisa lagi," ujarnya sedih. Suasana pun mendadak hening ketika ia menceritakan tentang anak tunggalnya, seorang pendeta, yang telah dipanggil oleh Tuhan mendahului dirinya.

Ketika sudah waktunya mengambil bagian di dalam Sakramen Perjamuan Kudus, oma meminta kami untuk membangunkannya. Dengan bersusah payah ia berusaha untuk duduk di atas tempat tidurnya. Saya sangat terharu melihatnya. Sebelum ia memakan roti dan meminum anggur, ia memejamkan matanya dan mengucapkan doanya dengan penuh keyakinan. Saya tidak ingat doanya
secara rinci. Tapi satu kalimat ini saya ingat benar, "Tuhan Yesus, terima kasih untuk tubuh dan darah Tuhan yang sudah Tuhan berikan buat saya yang berdosa."

Sepulang dari kediaman oma Hafini, hati saya penuh dengan sukacita. Menyaksikan oma yang tetap teguh beriman kepada Tuhan meski tubuhnya sudah lemah dan tidak berdaya betul-betul menyegarkan iman! Saya ingin menjadi seperti oma Hafini di usia tua saya. Saya sangat yakin bahwa kesetiaan oma kepada Tuhan bukanlah produk instan. Pasti sejak masa mudanya oma selalu berjuang untuk setia kepada Tuhan! Terima kasih, oma. Tanpa oma sadari, oma sudah menguatkan saya untuk lebih serius dan lebih setia lagi di dalam melayani anak-anak muda, entah itu di dalam konteks gereja atau pun pelayanan kampus. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Ams 22:6)

Ah, seandainya setiap anak muda yang mengaku Kristen memiliki semangat segigih dan iman seteguh oma Hafini...